inicio mail me! sindicaci;ón

Addicted to mmm mmm..

For the metamorphed, whose life is constant change

Penyakit Officer

Cerita percakapan di posting yang ini memang benar-benar terjadi. 

Jadi mari kujelaskan lagi bahwa sebenarnya fenomena alam ini mengungkapkan adanya penyakit di antara kalangan officer di perusahaan-perusahaan BUMN atau Instansi Pemerintah yang menganut sistem long life employee, di mana tingkat kinerja tidak menjadi faktor utama perhitungan take home pay.    

Penyakit tersebut adalah adanya mental ‘just taking order’ alias hanya melaksanakan instruksi atasan tanpa berpikir mengenai  peningkatan/perbaikan.    Officer tingkat bawah biasanya mengerjakan pekerjaan yang rutin, bersifat fisik, prosedural.    Mungkin keberadaan mereka sebenarnya bisa digantikan oleh robot.  Just kidding :P  

Munculnya gejala patologis ini bukannya tanpa sebab.  Mereka masuk sebagai karyawan baru dalam keadaan sehat dan punya kompetensi tertentu.  Namun pada perjalanan sebagai karyawan mereka mengalami hal-hal yang membuat kesehatan pikiran dan kompetensi mereka meluruh.     Lagi-lagi masalahnya sistemik.  Tapi yang itu nggak perlu dibahas lah ya… 

Neeext ….! :)

Kalau ingat kita dulu waktu sesi pembekalan sebagai karyawan,  pernah melakukan permainan ‘bisik-bisik tetangga’, yaitu permainan menyampaikan informasi melalui serangkaian orang.   Informasi sepotong kalimat yang disampaikan ke orang berikutnya bisa berubah kata-katanya,  intonasinya (yang bisa mengubah persepsi konotasi informasi dst), susunan kalimatnya.  Misalnya seperti ini:

Orang pertama pada orang kedua  :  Hidup SBY!!  (berusaha menyampaikan informasi setegas dan sekeras mungkin, agar dimengerti orang berikutnya)

Orang kedua pada orang ketiga       :  Hidup SBY.  (menunjukkan bahwa dia mengerti pesan, maka orang kedua bersikap tenang)

Orang ketiga pada orang keempat  :  Hidup SBY?  (karena ingin memastikan kebenaran informasi, namun kebablasan disampaikan ke orang berikutnya dengan intonasi yg sama)

Orang keempat pada orang seterusnya       :  SBY hidup?  (karena ingin memperbaiki susunan kalimat dengan susunan yang dirasanya lebih enak) 

Hihihi…

Ini analogi sederhana dari proses penyampaian strategi perusahaan yang diterjemahkan menjadi Kontrak Manajemen  dari layer ke layer sesuai dengan fungsi dari tiap unit kerja.  Memang rawan bias karena ketidakseragaman kompetensi maupun wawasan.   Bersedia mengakuinya adalah satu langkah solusi.  Tidak mengakuinya berarti upaya menjaga imej yang sia-sia.

Harus diakui.  Pelemahan demi pelemahan selalu terjadi di layer-layer berikutnya.   Dengan sejuta masalahnya.  Yang lagi-lagi sistemik.

Sampai ke tingkat pelaksana paling bawah, yang lama-lama mengadop penyakit taking order tadi.   

Bila sistem mentoring atasan-bawahan malfungsi, kadang-kadang kecelakaan ini terjadi, kecuali pada orang-orang tertentu yang spesial yang mampu memblok pengaruh luar yang buruk pada dirinya.  Atau pada orang-orang yang tiba-tiba tercerahkan :  

Bahwa orang beruntung itu adalah orang yang memiliki hari ini lebih baik dari kemarin.  Dan yang membuat rencana untuk hari esok, agar esok  menjadi hari yang lebih baik dari hari ini.* 

*Quote di atas adalah hakikat dari  continuous improvement,  sederhana kan?

Jadi bagaimana untuk memperbaiki juga mencegah keadaan ini?

Ini salah satu ide.  

Jadikan diri sendiri sebagai pemimpin dirimu sendiri, sebagaimana seharusnya (fitrah manusia). 

MEMBIASAKAN membuat sendiri program kerja: tahunan, bulanan, mingguan, harian,  ini sudah pasti bakal meningkatkan kualitas kerja masing-masing  officer.   Jewer aku kalau nggak benar.  *Eits, kupingku tersembunyi… :P  *

Ayo para officer, KAMU BISA :))  Jangan biarkan penyakit itu berlarut-larut dalam dirimu, mematikan gairahmu,  jiwamu,  kehidupanmu.  Halah :P 

Supaya yang namanya peningkatan kualitas menjadi passion semua orang sehingga suatu saat perusahaan dapat menghapus  posisi “Officer Quality & Change Management” yang kerjanya hanya menyerap beban SDM saja.  Huh.

How extreme are you?

Malam tadi kami tekun dengan bacaan masing-masing, aku dengan Extreme Toyota dan ayah dengan Nagabumi-nya Seno Gumira Ajidarma.  Dari tingkat kesenangan yang didapat, jelas ga bisa dibandingkan dong antara membaca buku fiksi dunia persilatan  plus bumbu percintaan dengan buku yang bercerita soal industri kendaraan. 

Tapi malam tadi kasusnya menjadi lain.

Awalnya, bigbos di kantor yang out of the blue mendisposisikan tugas untuk meresume buku yang disodorkannya padaku.

“Ini, cari lesson learnt yang bisa diterapkan di unit kita.  Senin kita diskusikan.”

Aku bolak-balik buku berwarna abu-abu dengan kombinasi merah hati ber-emboss ikon kepala banteng yang dideformasi itu.  Extreme Toyota.   Setelah membaca histori disposisi, ternyata tugas mencari lesson learnt buku ini diturunkan dari bigbosnya bigbosku kepada bigbosku (get it?) …  Whatever…  walaupun sempat terlintas di kepalaku  ”WTF?  Why me?”  tapi..  senang juga dipercaya melakukan ini.   Walau mungkin aku hanya dimanfaatkan,  sebagian diriku malah kegirangan karena bisa mendapat tambahan pengetahuan selevel boss-boss… hehe..  There’s ALWAYS a blessing in disguise, if we look at the right place, right?

Berhubung waktuku terbatas, dan tugas ini membutuhkan kecepatan, aku menerapkan metodaku yang praktis taktis *menurutku*.   Pertama aku baca sampulnya dulu.  Lalu daftar isi.  Lalu lampiran berisi grafik-grafik dan data.  Lalu ringkasannya (ada bab tersendiri di bagian belakang).   Barulah aku punya gambaran mengenai bentuk resume yang ‘menarik’ dan tepat sasaran.  Menurutku, lah :P    Sudut pandang tiap orang berbeda-beda bukan?

Namun konsisten dengan karakter judging-ku yang kadang terkutuk,  aku punya dugaan kalau tugas ini bakal ga jelas ujungnya.   Aku pesimis bakal ada perubahan walau setitik  dari hasil pembelajaran buku ini.    Bagiku, mungkin aku tambah pengetahuan.  Tapi untuk mengadakan perubahan yang signifikan, bolanya ada di tangan bigbos dan bos-bosku.   Dan untuk menjadi seekstrim Toyota Corporation, diperlukan pribadi yang berkarakter ekstrim tahan banting pula dalam mengelola perubahan dan konflik.  Which is,  aku ragu apakah karyawan yang menjabat di perusahaan milik negara ini memiliki komitmen sekuat itu, nyaris antara hidup dan mati berbau pertaruhan harga diri.

Supaya tetap intact sebagai manusia periang,  aku melarang diri berharap terlalu banyak, terutama yang berkaitan dengan keputusan dan tindakan orang lain di luar diriku.  Yang bisa kuandalkan hanya diriku,  itu pun tak selalu…  Manusia berencana, Tuhan yang menentukan, ya toh?    Namun demikian, sikap optimis namun tetap legowo, *kombinasi yang aneh* tetap bisa menjaga diriku dari perbuatan norak, seperti menyalahkan orang lain maupun keadaan :P  Begitulah.

Resumenya sendiri, nanti yah :)  Aku mau membuatnya dalam satu lembar kertas A4 saja.  Aku mau menggambar diagram sistem syaraf  yang sedikit nyeni. 

Siap-siap aja dikatain resumeku lebih mirip krepe-an (contekan) hihihihi…. so be it!

mmm…

Apakah rindu itu?
Rindu itu, inikah?

Bila jiwa serasa terbang, ringan melayang
bingung mencari tambatan
Nyeri perih pedih serasa manis,
hilang kemauan
Tangis dan tawa tak berbeda
Lelehan air mata menguapkan kata-kata?
………….

Banyak cerita kita yang tercecer di jalan
untuk kau pungut suatu saat bila kau sempat
dan merasai rindu itu menghangat

Cekresss… dan Pita pun digunting…

Sudah terlanjur berhutang janji pada publik semenjak tahun lalu, pada hari ini aku memberanikan diri untuk membayar dengan cara mencicil.

Untungnya bukan dalam bentuk uang, berhubung sudah banyak cicilanku.. hiks :p

Pada bulan Juni 2008 aku pernah berjanji akan menuliskan ilmu tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja ini dalam bentuk blog, supaya searchable di internet, oleh siapa pun yang memerlukannya.  Dan ini merupakan tribute pada pak Pungky Widiatmoko, guruku yang juga mantan Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Pengawasan Tenaga Kerja, seorang Ahli K3 angkatan pertama di Indonesia, yang harus mengejar ilmu ini sampai ke Jepang.

Dengan mengucapkan syukur atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dengan ini saya resmikan blog yang bertema khusus mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja.  Bismillahirrohmaanirrohiim …

*cekresss*  Terima kasih… terima kasih….

Aku mohon doa restu para sahabat semua, supaya bisa konsisten membayar cicilan ini… hingga keluar semua ilmu yang pernah kudapatkan selama pelatihan yang tidak singkat itu…

Duh gw udah makin mirip caleg aja… wkwkwkwkwk

Just so you know, aku punya sisi lain yang jauh lebih serius dari yang sekarang.  Bulan depan ada kemungkinan aku daftar menjadi pasien multiple personality disorder.. heh heh… :lol:

Tapi sebenarnya aku butuh sisi-sisi ini supaya melengkapi hidup dan menjaga keseimbangan.

YES!

Yes! That’s the first word I got from my friend Regina, as her first comment in my other blog.  Yes, yes, yes!  The simple 3 characters have surprisingly deep meaning and opening new doors to anything you’ve ever  imagined of. 

True, I’m inspired by a good movie by Jim Carrey,  YESMAN.   Highly entertaining plus enlightening, that’s what I call a good movie.   Not necessarily full of action and costly, this movie reveals our casual routine in missing many good opportunities in our lives  just by  saying NO  most of the time to the life’s  popped questions.    No wonder, I felt my life has stopped moving after I got married, have kids and stay in our own house.  After I got everything, what’s next but waiting for life to end eventually?   It’s a pathethic thought  isn’t it?  I knew something was wrong, and before I saw this movie I just couldn’t figure it out.  Now I know.

Because, if you want to FEEL ALIVE, first you have to say YES to LIFE. 

If FEELING ALIVE wouldn’t make me happy, what will?  

So, YES to life’s every questions?   Let us.

PS : 

I’ve been saying YES! for sometime now…. and YES! everybody… that New Car is going to replace our old one  in our garage by this weekend.  Faster than I thought it would be <grin>.  I’m sure it’s just the first of  the many things to come ;)

Do Something Different

I’d truly like to know, what do you expect to read in other people’s blog anyway?  Surely you don’t want to get disappointed with what you find in it, right?    Blogwalking is very much like treasure hunt, sometimes you find real jewel,  sometimes you only get trash.

In my humble opinion, good reading materials in blogs can be divided into three categories:

  • reading stuff that make us enlightened or wiser,
  • stuff that make us laugh or entertained, and last one
  • stuff that give us inspiration to do something different with our lives.

What else would I do with this blog anyway, but to pick one of the three categories, in hope to give worth for your time spent here.

By using English as the language in this post,  at least I  inspire myself  to do something different from everyday’s routine. 

Expert says, we can bring out creative power in ourselves by doing something different than routine, such as taking different route on your way to the office each day or hanging your body upside down like Dan Brown does everytime he needs inspiration for his book.

And for you readers, I will not torture you (neither myself) with long  material.  This post ends here.

Mmm…..macet! Sebuah Kontingensi Plan

Bekerja di kota Jakarta tapi bertempat tinggal di luar kota, terasa familiar?   ;)

Perjalanan menempuh 70km minimal, bila ditempuh dengan kecepatan 100km/jam (tanpa menginjak rem) mungkin hanya ditempuh 45 menitan saja.  Sayangnya, perjalanan di Jakarta sudah tidak bisa lagi dihitung menggunakan indikator jarak.

Tidak bisa lagi orang bercakap-cakap seperti ini:

“Berapa jauhnya sih kantormu dari Plaza Semanggi?”

“Deket kok, cuman 2 km aja.”

“Oooh…  aku tunggu 15 menit lagi ya?”

Hwakakakak.  Bisa berurat berakar dia menunggu temannya. 

Indikator waktu juga, sayangnya bersifat sangat relatif.  Tanya saja pada Einstein.  Jadi apa yang bisa dipegang? Tak ada, hanya pure luck,  yang tak bisa diandalkan.

Pada jam-jam sibuk seperti jam karyawan berangkat dan pulang kerja, adalah saatnya para pengguna jalan raya di seluruh Jakarta dan sekitarnya mendulang pahala sabar seluas-luasnya.
Tak ada satu orang pun yang berkuasa mencegah Jakarta macet, selain pemkot.  Dan bagi yang bukan merasa bagian dari pemkot, seperti aku, mau tidak mau harus mencari cara lain untuk tidak terjebak dalam bete berkepanjangan.

Waktu tempuh untuk perjalanan 59 km start dari rumah ke kantor, tercepat 50 menit, terlama:  tak terbatas.  Tapi modusnya antara 1,5 jam hingga 2,5 jam.    Jadi tak ada pilihan lain yang lebih cerdas  selain menggunakan angkutan umum massal.  Menggunakan bis umum, membuat aku merasa menjadi bagian dari rakyat kebanyakan hehe… yang lama-lama merasa bahwa ada pemerintah atau tidak, gak terlalu berpengaruh.

:P  

Biasa banget kan, yang namanya mengecam memang gampang.  Supaya jadi nggak biasa, *Flexi(TM)* kita harus buat sesuatu yang bisa ditindaklanjuti sendiri supaya pengalaman bermacet ria di bis selama 2,5 jam menjadi menyenangkan… dan bermanfaat. 

Pertama,  berangkat segera pada pukul 05.30.   Jalan tol inner dan outer masih lowong pada saat itu, kecuali bila ada kejadian luar biasa seperti :  tabrakan beruntun, kecelakaan, muatan truk berjatuhan,  (pernah terjadi) dst.    Lupakan acara melihat si kecil bangun tidur, apalagi menyempatkan diri bermain dengan mereka barang sebentar.  Bagi ibu-ibu bekerja, sebaiknya anda tidur dengan anak-anak sepanjang malam supaya mereka tahu siapa ibu mereka sebenarnya.

Kedua, Jangan terlalu optimis, bila waktu berangkat dari rumah waktu sudah menunjukan jam 06.00.   Harus diingat apa saja yang bisa terjadi pada diri kita selama  2,5 jam ke depan.    Bukan rasa yang menyenangkan, ketika terperangkap di bis tiba-tiba anda pingin pipis atau BAB.    Percayalah.  *Coz I’ve been through this, hiks*  Jadi, jangan - sekali lagi jangan- minum air putih  sebelum berangkat.  Apalagi kopi.  Wuih, bisa berabe.

Ketiga, bila anda merasa sangat haus ketika bangun tidur dan lupa kiat di atas, segera sediakan batu di kantong celana atau tas  untuk anda genggam erat-erat ketika desakan panggilan alam makin menggila.  Atau, anda terpaksa harus membawa mobil sendiri supaya bebas minggir.

Keempat, sediakan juga masker bagi yang tidak tahan bau kopling atau bau nafas orang satu bis yang bercampur baur… demi keselamatan anda.

Keempat kiat di atas sudah dipenuhi, anda bebas memanfaatkan waktu selama 2,5 jam tersebut untuk baca koran, buku,  facebook-an, tidur (dan berharap macet tak pernah berakhir) atau bikin posting di blog. 

:P

Politik itu…..

Dulu pernah aku punya seorang senior di kantor, yang kebetulan aku tahu beliau punya koneksi yang luas, dan yang kumaksud adalah luaaaaaasss sehingga melingkupi orang-orang kepolisian, para dokter tua terkenal, dan kuduga juga beberapa selebritis.   Dan yang aku perhatikan juga, dia selalu menjaga hubungan baik dengan setiap orang yang dikenalnya.  Pada seorang kenalan, dia menghadapinya sebagai teman.  Bila menghadapi teman, dia akan menghadapinya sebagai sahabat.  Pada sahabat mungkin sudah seperti saudara (yang rukun lho), tapi aku tidak tahu apakah itu sejauh ‘my money is your money‘ atau tidak hee…. karena mentok-mentoknya itu hanya berlaku untuk pasangan suami istri (yang rukun juga :P). 

Nah, suatu saat aku diwanti-wanti oleh senior itu agar aku bisa menghadapi seorang rekan kerja yang kebetulan sikapnya membangkitkan harimau dalam diriku, mungkin juga orang-orang lain.  Seperti  : mau menangnya sendiri, mau enaknya sendiri, mau populer sendiri, mau lucu sendiri dan kebetulan, lebih senior dari seniorku yang baik.  Pendapat ini bukan menurutku saja, tapi juga beberapa kolega lain yang lebih junior dari dia walaupun lebih senior dari aku.  Jadi aku merasa benar untuk menunjukkan bahwa sang senior itu tidak layak untuk dianggap lagi.

Rupanya aku terlihat frontal,  sampai seniorku yang baik perlu mengkhususkan waktunya untuk bicara padaku.  Dengan gaya seperti ini kira-kira : 

“Nduk,  ini aku bilang padamu karena masa depanmu di perusahaan ini masih panjang ya.   Kalau kamu tidak suka pada orang, jangan tunjukkan.  Jangan sekali-sekali ditunjukkan…!”  

Saat itu aku hanya berkerut kening.  Ada campuran tidak setuju dengan terkejut, karena menerima wejangan tak terduga.

“Ini pesan dari saya, ingat-ingat ya.  Suatu saat kamu akan mengetahuinya.“  

Rupanya dia benar-benar khawatir padaku, entah karena melihat tindak-tandukku selama interaksi kami dalam suatu proyek yang panjang.

Sebagai orang muda, biasa dan lazim kalau masih bersikap idealis.  Aku waktu itu hanya berpikir, bila aku mau dianggap sebagai orang berprinsip, tunjukkan idealismeku pada dunia.  Dan menghadapi orang yang sikapnya mengganggu kerja tim seperti sang senior antagonis di atas, aku jadi main hantam.  Biasanya, aku menganggap tim kerja adalah sejajar, tidak ada perbedaan kehormatan dari segi perbedaan usia.  Jadi anggota yang tidak kompeten, bahkan mengganggu, mendapat pengabaianku. 

Mendapat teguran itu, aku jadi berpikir banyak.  Kadang aku merasa benar, tapi sering kali aku merasa ragu.  Aku hanya tidak rela bila tim kerja menjadi rusak bila orang ini merajalela, itu saja.  Tapi pesan seniorku yang baik, mengandung sesuatu yang kupikir layak dipertimbangkan.  

Dan membaca berita tentang pak Anis Matta Sekjen PKS yang menyebutkan PKS akan keluar dari koalisi jika menerima JK dan Golkar dalam barisan koalisi.  Karena komitmen koalisinya dengan SBY tidak jelas, setelah mencalonkan diri sebagai capres pesaing SBY sebelum pemerintahan periode 2004-2009 berakhir.  Setelah Golkar terbukti kalah pada pileg, dengan tak malu-malu JK kembali mengetuk pintu Istana Cikeas, meminta posisinya kembali sebagai orang nomor dua.

Lalu para Golkarist membalas dengan lobby-lobby agar PKS tidak diterima dalam koalisi yang berharap dapat dibentuk dengan Partai Blok S nanti. 

Dalam hati aku membatin, apakah pak Anis Matta tidak lebih bijaksana dari aku, ketika mengeluarkan statemen tersebut? Apalagi resikonya dikutip oleh media secara luas, hingga bias-biasnya panas menghembus telinga para petinggi Golkar. 

Tidak mungkin.  Pak Anis Matta adalah guruku, yang telah merubahku secara radikal dari seorang manusia tak tentu arah sehingga menjadi seperti sekarang ini.
Atau…. karena memang beliau adalah guruku, jadi aku sama-sama punya sikap terang-terangan?  Haha.  You wish.

Yang jelas, aku mendapat beberapa hikmah dari sini. Pertama, pesan seniorku adalah baik, sangat baik.  Aku tidak tahu apakah itu adalah hal yang benar atau tidak, yang jelas, akan sangat baik bila aku tidak terlalu ekspresif menunjukkan ketidaksukaan pada seseorang. 

Karena, politik kekuasaan kurang lebih sama saja dengan politik kantor. 

Penuh dengan jebakan.

 

Ulang Tahun Si D 2009

Yay!  sampai juga blog ini ke tahun ke-dua-nya.  Dengan tertatih, dan terseok.   Sakit.  Aku sendiri sih yang merasakan.  Aku akui sedang mengalami kemandegan kreatifitas. 

Ini hal sangat menusuk perasaan dan kepercayaan diri. 

Ketika ada orang yang berpandangan, bila kehidupanmu terlalu normal, maka kamu tidak berbakat menjadi penulis. 

Nah.  Mungkinkah kehidupanku terlalu normal? Terlalu rutin? Terlalu berhati-hati? Terlalu menjaga?  Tapi mungkinkah aku tidak bersikap seperti seharusnya seorang perempuan yang baik?  Mungkinkah karena aku butuh memunculkan sisi penulisku, aku perlu berselingkuh dengan dosa?  Perlu bertingkah care free dan centil sebagaimana masa bujangan dulu?

Aku belum gila, kan?

Aku tahu ada sesuatu yang harus diperbaiki dengan sistem kreatifitas yang tidak berjalan selama setahunan terakhir ini.  Bukan, ini bukan karena kecelakaan itu.  Peristiwa itu sederhana saja sebagai rem aku untuk berhenti, tapi sejenak.  Tidak seharusnya berkepanjangan seperti sekarang.

Di tahun ke dua ini, aku harus melakukan instrospeksi panjang dahulu.  Sambil membaca apa yang terlewat selama aku berpaling dari dunia buku.  Aku jadi ingat.  Mungkin benar resep pak Rosihan Anwar : ketika pikiran kita bekerja dan tubuh kita bergerak, maka kita akan dapat mencegah kepikoenan :D

Aku memang kurang olah raga beberapa bulan terakhir. 

AHa!  Itu toh penyebabnya! 

Eureka :D

Que Paso telkom.us Blogger ?

Terima kasih, terima kasih… telkom.us masih hidup.  Beruntunglah, site ini punya mas Admin yang nggak tegaan … :)  Dan bagaimana pun, kalo dimintain urunan buat beli domain, aku gak kan keberatan kok, asal dibagi rata sama seluruh penghuni tetap di sini hahahaha… not kidding… :P  

Blog ini akan tetap sebagai tempatku meracau kala suntuk.  Dan sekarang aku lagi suntuk.  *Outta my way! dzig!*

Padahal di luar matahari bersinar cerah dan lalu lintas dalam keadaan lancar… it’s a mystery :|  Kenapa ya bisa suntuk begini.. Kayaknya ada yang ga beres di sistem nih.  Time to debug? 

*gedebug*

Udah.

Hmmm!

Syukur… syukur…. perubahan radikal sedang terjadi secara besar-besaran di perusahaan ini.  Waktu dua tahun lalu aku mulai ngupdate blog, blogging baru dikenal beberapa orang saja.  Sekarang, hampir semua orang di kantor tau apa yang namanya blog, bagaimana bikin blog dan apa manfaat blog!   Diakui atau tidak, ini semua hasil perjuangan rekan-rekan blogger perintis telkom yang bergerilya di daerah masing-masing, juga tim Broadband Transformer  lintas Divisi di Jakarta yang dikomandani pak Pramasaleh dan pak Arief Musta’in.  

Kepada mas Koen, mas Prio, mas Arief, Anis, Lenggo, Firman, bang Davik, LintongPung, dan lain-lain yang belum tersebutkan di sini… mari, kita patut berbangga :)  Paling tidak, kita sudah menjadi batu pertama yang dapat dijejak dan diikuti oleh para blogger telkom berikutnya.

Walaupun aku merasa, blogging kini sudah bukan lagi aktivitas yang elitis lagi *uhuk* tapi tetap …  aku masih ingin melihat berapa orang yang sudah ngeblog bisa konsisten dengan updating blognya.   Karena bukankah ujian sebenarnya ada pada konsistensi?  

Target selanjutnya adalah membentuk komunitas yang bisa menyepakati etika aturan main di bloghosphere, sesuai amanat dari Fresh 7.0 yang dicanangkan mas Koen waktu tanya jawab dengan GM ;)

Atau sebaiknya tidak?  Ini juga harus hasil kesepakatan, kan :p

Aku cuma khawatir dengan sifat manusia yang tempat salah dan lupa, terutama masalah kebocoran rahasia perusahaan, yang rawan bila semua karyawan mulai ngeblog.

Ingatkan aku lagi, rahasia perusahaan itu yang seperti apa sih?  ;)  Lenggo, Anis, Endah dan aku bi(a)sa berbeda pendapat dalam hal ini btw.

Ada yang menganggap hal ini serius, tak?

Next entries »