Diskusi yang terjadi via sms antara aku dan Bang Davik (baca posting sebelumnya), menjadi diskusi menarik antara aku dan mamah yang kebetulan sedang menginap di rumah.
Mamah menyarankan aku supaya memerinci pemikiranku tentang hal itu supaya orang-orang tidak salah paham, aku harus melengkapi dengan dalil Naqli dan Aqlinya, supaya kuat argumennya karena tidak semua orang bisa memahami begitu saja apa yang kupikirkan dan kukatakan (secara aku anak kemarin sore gitu loh).
Trims mamah, mungkin aku memang bersalah telah menulis email dengan gaya koboiku dan tidak memikirkan kemungkinan bahwa akan ada orang yang tersinggung walaupun kita sedang menyampaikan kebenaran dan kebaikan, hanya karena salah paham.
Aku tidak heran. Pada saat sekarang ini aku sadar sedang ada dalam posisi yang menentang arus. Tidak sedikit teman yang menganggap aku punya pikiran yang nyeleneh. Mungkin nyaris seperti tokoh Luna Lovegood dalam cerita Harry Potter (oh yeah I read anything). Seperti mungkin membuat rumah dari bilik bambu tidak menarik bagi banyak sekali orang karena rumah bilik menandakan kemiskinan, tapi sebaliknya bagiku sangat tinggi nilainya.
Seperti pendapatku mengenai bau mulut orang berpuasa yang disukai Allah, TIDAK ADAKAH YANG BERPIKIR BAHWA BAU MULUT ORANG YANG BERPUASA ITU SEBENARNYA WANGI? Bila demikan, aku perlu mengemukakan bahwa ini adalah pemahaman yang salah kaprah.
Bagaimana bisa Allah yang Maha Indah, yang menyampaikan lewat Rasulullah bahwa Kebersihan adalah sebagian dari iman, yang umatnya disarankan untuk memakai wewangian ketika berangkat menuju mesjid, menyukai bau NAGA dari seseorang yang hanya terjadi karena perutnya mengandung banyak racun sehingga menimbulkan penyakit di badannya, yang didahului oleh disfungsi organ-organ dalam seperti hati, ginjal, usus, dan sebagainya karena berpuluh-puluh tahun diberi asupan nutrisi berupa racun, yang disebarkan ke seluruh tubuh setelah melalui proses pencernaan dan penyerapan, dari makanan yang masuk ke dalam perutnya sebelumnya ketika mengalami proses pengolahan telah mengandung banyak racun (pestisida, pengawet, pemutih, pengenyal, pewangi, pewarna, pelezat, pembuat renyah, pembusa, pengemulsi dan lain lagi dan banyak lagi, belum lagi menyebutkan makanan yang tidak halal, belum lagi menyebutkan asap rokok, logam berat dari polusi kendaraan dan buangan pabrik, dan banyak lagi sumber racun lainnya yang tidak kita sadari seperti pikiran yang kotor dan segala hal yang kotor.
Rasulullah saja sudah mencontohkan pada kita dengan sering berpuasa, makanannya adalah kurma, madu, obat-obatannya adalah haba sauda (jintan hitam), rutin berbekam, dan menjauhi bawang (dalam suatu hadist disebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: jauhkan orang yang memakan (bawang) itu dariku karena sesungguhnya aku berbicara pada yang tak terlihat (malaikat Jibril).
Itu baru komentar Rasulullah mengenai orang yang makan bawang, bagaimana dengan orang zaman sekarang segala macam makanan masuk ke perut, mau dikomentari apa oleh Rasul?
Rasulullah bersabda, sesungguhnya semua penyakit itu berasal dari perut, dan ini sudah terbukti kebenarannya pada saat sekarang dengan adanya penelitian oleh para ilmuwan barat yang menemukan metoda colon cleansing ternyata bisa menyembuhkan penyakit-penyakit degeneratif.
Hadist yang selengkapnya mengenai wangi mulut orang berpuasa itu adalah sebagai berikut :
Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah telah bersabda :
“Puasa itu perisai. Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa hendaklah ia tidak berkata keji dan membodohi diri. Jika ada seseorang memerangi atau mengumpatnya, maka hendaklah ia mengatkan : Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut yang keluar dari orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Orang yang berpuasa itu meninggalkan makanan dan minumannya untuk diri-Ku (Allah). Maka puasa itu untuk diri-Ku dan Aku (Allah) sendiri yang akan memberikan pahala karenanya. Kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya.”
(sumber : Fiqih Wanita Edisi LEngkap Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah cetakan I tahun 1996 M/1417 H)
Aku selalu berpikir bahwa orang-orang yang rajin berpuasa memiliki bau mulut yang tidak mengganggu orang lain, juga bau keringatnya tidak berbau sama sekali karena sedikitnya racun yang dikeluarkan oleh tubuhnya, karena mereka selalu menjaga asupan makanan supaya hanya secukupnya saja, tidak berkata keji (keji dalam pengertianku seperti berkata yang baik-baik hanya untuk menjilat, tidak berani menyampaikan kritik walaupun diperlukan termasuk keji karena membiarkan kesalahan berlanjut) dan tidak membodohi diri (dalam pengertianku : tahu teori dan prinsip2 keilmuan tapi tidak menerapkannya.)
Sesungguhnya kebahagiaan orang yang berpuasa itu ada dua, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah swt, dalam keadaan wangi, bersih dan sehat secara lahir dan bathin tentunya.
Nah, masih berpikir bau mulut naga itu akan dianggap lebih harum dari bau kesturi di sisi Allah?
Setelah aku menyampaikan semua hal di atas, aku tidak akan tersinggung bila ada yang mengatakan aku berkata keji dan menyinggung banyak orang yang secara usia lebih tua dari aku, karena aku sama sekali tidak merasa melakukan hal-hal yang dituduhkan.
Mohon maaf lahir bathin bila dalam penyampaiannya kurang baik dan tidak halus karena bla bla bla. Orang yang nulis ini baru saja gegar otak. Titik.
Tidak, benar, aku tulus minta maaf.
